CHINA NIKMATI BOOMING BATIK DI INDONESIA
Perkembangan batik sejak dua tahun terakhir patut diacungi jempol. Batik yang pada mulanya hanya dikonsumsi oleh beberapa kalangan, saat ini bertumbuh pesat. Di tengah pergolakan dunia mode yang selalu berkiblat ke arah Barat, batik ternyata mampu menjadi tren baru. Bahkan, muncul istilah booming batik di kalangan anak muda.
Seperti tak mau ketinggalan dengan produk tekstil lain, batik tak hanya sebagai kain pembungkus badan atau yang biasa digunakan oleh para ibu untuk menggendong balita mereka. Kain batik ternyata mampu mengalami masa pancaroba untuk lebih memasyarakat dengan siapa saja.
Sebenarnya batik sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Akan tetapi kala itu, hanya keluarga raja atau keturunan keraton yang menggunakan batik dalam kesehariannya.
Seiring dengan perkembangan zaman, batik mampu menjadi trade mark dan dipakai oleh masyarakat dari kalangan mana saja tanpa lagi melihat status ataupun jabatan.
Pada era sebelum reformasi, batik sudah banyak digunakan, tetapi lebih banyak dipakai oleh para pejabat atau para bangsawan berdarah biru.
Saat ini kita bisa melihat siapa saja bisa mengenakan batik. Hanya saja, tak sedikit yang lupa dengan kerajinan asli Indonesia tersebut sehingga tidak lagi bisa membedakan produk negeri ini, meski selalu dielu-elukan sebagai identitas bangsa.
Batik yang asal katanya niba (malam/lilin), yang jatuh ke kain dan nitik (titik-titik dalam kain). Batik mengungkapkan makna mendalam dari perjuangan masyarakat Indonesia. Mulai dari pemilihan kain dan alat pembatik, teknik melukiskan titik-titik menjadi indah, serta keahlian yang membutuhkan ketelatenan tersendiri.
Canting adalah alat melukis dengan malam mendidih pada kain berpola. Tak semua orang bisa melakukannya.
Pembuatan batik tulis tradisional membutuhkan waktu 1-3 bulan, mulai dari membuat pola, menggambar lukisan, menggodok kain dan membersihkan malah, hingga pencucian yang berulang.
Batik tak dibuat dengan sembarangan karena memang bernilai budaya bangsa. Batik juga berkembang tak hanya dipakai sebagai kain atau baju. Beragam pakaian semiformal, celana, beragam produk interior, sepatu, hingga sendal, kini banyak yang bernuansa batik, seperti Pasar Tanah Abang dan Mangga Dua, Jakarta.
BOOMING
Kreativitas ini pula yang telah merangsang booming permintaan terhadap produk batik. Pusat belanja tradisional maupun modern pun banyak yang bernuansa batik.
"Animo masyarakat untuk menggunakan batik jauh meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya," ujar Rofiah, perajin batik asal Pekalongan yang juga pedagang di Pasar Tanah Abang.
Hanya saja, produk China selalu mengintai pasar. Anda boleh saja terkejut. Produk batik yang selama ini dibanggakan sebagai warisan budaya dan identitas bangsa ternyata banyak ditiru oleh negara lain.
Banyak juga orang Indonesia yang mengimpornya, buktinya impor tekstil batik China mulai membanjiri pasar dalam negeri.
Sepintas memang tidak tampak perbedaan antara batik tradisional dan tekstil printing bermotif batik buatan China. Perlu sedikit jeli untuk melihat perbedaan di antara keduanya.
Ika B.S. Wahyudi, Bendahara Yayasan Batik Indonesia, mengatakan banyak perbedaan batik tradisional dengan tekstil printing China. Batik dalam negeri juga memiliki kekhasan dari setiap daerah.
Batik tradisional motifnya dilukis dengan canting dan lilin sehingga aromanya kentara sekali.
Adapun, printing China dilukis dengan tinta atau sablon. Motif yang dihasilkan printing sangat rapi dan tidak ada tinta yang meleleh ke mana-mana.
Batik tradisional kelihatan timbal-balik atau dua sisi, sedangkan produk China hanya satu sisi.
Batik printing China biasanya dijual dalam bentuk bal-balan (gulungan besar) sehingga bisa didesain atau dipola sesuai dengan keinginan para importir. Harganya sangat bersaing, selain model yang ditawarkan cukup trendi dan mentereng.
Baju batik tulis tradisional harganya Rp200.000-Rp350.000 per potong, sedangkan batik printing bisa didapatkan dengan Rp40.000 per potong. "Produk China harganya lebih murah dan warnanya lebih mentereng. Tekstil batik printing China mengancam kelangsungan perajin batik tradisional," ujar Ika.
Jenis dan corak batik tradisional sangat banyak. Tinggal bagaimana perajin mempertajam kekhasan produknya. Tentunya, pemerintah dituntut ikut menjaga batik sebagai produk dalam negeri.
"Seharusnya pemerintah menindak impor ilegal dari China. Kita memang tidak perlu lagi mengimpor bahan bermotif batik karena di dalam negeri sendiri sudah produksi," ujar Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G. Ismy.
Jika produk China dibiarkan merambah pasar dalam negeri, mematikan industri kecil.
Industri batik dalam negeri akan kolaps, pengangguran meledak, kredit menjadi macet, serta pendapatan pajak pemerintah menyusut.
Terlepas dari siapa yang harus bertanggung jawab, adalah kewajiban kita untuk bisa menjaga setiap produk dalam negeri.
Bukan hanya perajin, melainkan juga kita sebagai konsumen harus lebih kritis lagi dalam mengonsumsi produk apa saja.Hebat ya kita? apalagi berikutnya ya?
taken from bisnis indonesia online
2 comments:
maaf pak/mas,bukan bermaksud mengkritik.sy hanya mau menyampaikan klo batik itu aslinya berasal dr Cina lo..cb d browsing sejarah tentang batik.ada koq penjelasannya tentang batik masuk Inonesia dr mana asalnya.Klo ga ada bangsa Cina kita ga akan bisa mengakui batik sebagai kebudayaan negri lo.Walau sy juga kecewa sih Cina koq membuat kain batik motif Indo dengan harga yg murah.pdhl Motif Cina sendiri sangat menarik.
Maksudnya juga emang batik motif indonesia kok pak. Tapi nama batik itu kan adanya di indonesia.
Kalo soal kecewa dan kenapa cina membuat batik motif indonesia, udah pernah ke cina belum pak? disana barang merk apapun ada tiruannya. Toko BOSE (soundsystem) berseberangan dengan toko tiruannya dengan merek yang dipelesetkan. 'Halal', aman dan dilindungi UNDANG-UNDANG jika cina membajak produk yang berasal dari luar cina. Begitu aturannya disana pak. kebalikannya, jika cina membajak produk yang berasal dari dalam negeri cina sendiri, akan dikenakan SANGSI HUKUM.
Kenapa produksi massal DUNIA sekarang berpusat di cina? karena biayanya bisa lebih murah dibandingkan dengan negara manapun.
Post a Comment