Tuesday, August 25, 2009

MALINGSIA

KETIDAKPEDULIAN PEMERINTAH INDONESIA

Lagi, sesudah batik, angklung dan lainnya, kini tari pendet diakui oleh malaysia melalui iklan pariwisatanya.
Walaupun sudah ada 'itikad baik' untuk menarik iklan tersebut dan adanya penjelasan bahwa ada unsur ketidaksengajaan, tetep aja kecolongan.
Ke depan, budaya dan unsur tradisional akan sangat langka dan sangat mahal karena semuanya akan menjadi seragam dalam balut modernisasi dan orang akan muak dengan itu pada satu titik.

Kok seperti ada skenario ya? Hubungan indonesia & malaysia..
Ambalat, pemboman dan budaya, apalagi dengan berita busuk manohara itu (manohara & ibunya). Seperti hendak mengalihkan perhatian kita.

Pemerintah cuma ngurusin import beras, daging, gula dan garam..
Bukankah kita negara kaya akan hal hal diatas?
Untuk apalagi import import itu kalo bukan untuk celah korupsi?

*hh..*

Bapak-bapak yang terhormat yang duduk di jajaran pemerintahan.
Kalo anda-anda memang sanggup, mengerti dan peduli, hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi.
Kalau 'stamina' anda sudah habis, berikan kepada yang muda!
Kalo anda masih dahaga, seberapakah yang cukup untuk anda?
Masalahnya dimana? Di diri anda sendiri kan?
Tidak perlu saling menunjuk. Ini pembuktian bahwa anda-anda itu memang sudah busuk dan lebih cocok menjadi bangkai.

1 comments:

Blog Watcher said...

RAMAH IMPORT UNTUK MEMISKINKAN RAKYAT!!




Demi program ketahanan pangan, tim ekonomi pemerintahan (SBY) Susilo Bambang Yudhoyono menggelontorkan Lebih dari 5 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 50 triliun untuk import kebutuhan pangan agar tercukupi kebutuhan pangan nasional.

Komoditas import tersebut meliputi kedelai, gandum, daging sapi, susu, dan gula. Bahkan, garam yang sangat mudah diproduksi di dalam negeri karena sumber dayanya tersedia secara cuma-cuma dari alam tetap masih harus diimpor. Nilai nya cukup fantastis 1,58 juta ton per tahun senilai Rp. 900 miliar.

Dampak kebijakan ramah import ini jelas, mengabaikan pengembangan potensi pangan lokal akibatnya puluhan ribu petani garam di sebagian besar pesisir Nusantara secara perlahan menganggur. Petani yang berlahan sempit harus berhadapan dengan komoditas pertanian impor yang disubsidi besar. Ini sama halnya dengan pemerintah membiarkan ketidakadilan berlaku di negara kita.

Sebagian ahli ekonomi berpendapat, kebijakan ini diambil karena kualitas barang import yang lebih baik dan harga lebih murah. Namun, kebijakan ini akan berdampak berupa kehilangan peluang penyerapan tenaga kerja yang lebih besar dan pengurangan jumlah penganggur tidak akan maksimal. Dengan kata lain kebijakan ramah impor tidak bisa menyubstitusi kebutuhan masyarakat terhadap pekerjaan!!

“Coba bayangkan dengan anggaran 5 miliar dollar AS akan menyerap berapa banyak tenaga kerja!!”

Karena itu, komoditas apa pun yang memungkinkan untuk diproduksi sendiri harus dilakukan secara optimal oleh pemerintah dan semua pemangku kepentingan.